This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, 19 December 2014

Contoh LAPORAN STUDY TOUR



LAPORAN STUDY TOUR
RADJIMAN WEDYODININGRAT, MONUMEN SURYO, MUSEUM TRINIL, BENTENG PENDEM















 















DISUSUN OLEH :

Nama        :  
Kelas        
No             

SMP AL-AZHAR
TAHUN PELAJARAN 2014/2015


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan hasil laporan study  tour di :
1.      Radjiman Wedyodiningrat (Desa Dirgo Kecamatan Widodaren )
2.      Munumen Suryo
3.      Museum Trinil
4.      Benteng Pendem
Dengan tersusunnya laporan  ini berkat kerja sama dengan teman-teman serta tak lepas dari bimbingan bapak / ibu guru dan semua pihak yang telah membantu terlaksananya pembuatan laporan ini.
Kami telah bekerja secara maksimal namun masih banyak yang perlu diperbaiki untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik bapak/ibu guru serta semua pembaca.
Demikian perbaikaan laporan ini sangat dibutuhkan. Kemudian kepada semua pihak yang telah membantu didalam penyusunan laporan ini kami ucapkan Terima Kasih.

Ngawi, 4 Desember  2014


Penyusun












PERSEMBAHAN
Laporan karya tulis ini kami buat untuk memenuhi tugas sekolah dan kami persembahkan kepada :
ü  Kepala sekolah dan Ibu Jauharoh
ü  Guru pembimbing kami Ibu Robi’ah
ü  Wali kelas kami Ibu Yuli Indah Astuti
ü  Orang tua kami yang telah mendukung dan mendoakan kami dalam pembuatan laporan karya tulis ini.
ü  Dan juga teman - teman



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................        ii
PERSEMBAHAN....................................................................................................... iii
DAFTAR ISI............................................................................................................... iv      

BAB I      PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah........................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah..................................................................................................... 1
C.     Tujuan...................................................................................................................... 1      

BAB II    PEMBAHASAN
A.     Panitia Pelaksanaan........................................................................................... ....... 2
B.     Peserta............................................................................................................. ....... 2
C.     Waktu Pelakasanaan................................................................................................ 2
D.     Agenda.................................................................................................................... 2
E.      Biaya........................................................................................................................ 2

BAB III   PEMBAHASAN
A.     Rumah Radjiman Wedyodiningrat............................................................................. 3
B.     Monumen Suryo....................................................................................................... 4
C.     Museum Trinil........................................................................................................... 5
D.     Benteng Pendem Ngawi............................................................................................ 6
BAB IV   PENUTUP
A.     KESIMPULAN................................................................................................. 8
B.     SARAN..................................................................................................... ....... 8      


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang dan Masalah
Kabupaten Ngawi adalah sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Ngawi. Kota kabupaten ini terletak di bagian barat Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah.
Sedangkan tempat rekreasi yang ada saat ini adalah Monumen Suryo yang merupakan monument sejarah pembunuhan gubernur pertama Jawa Timur oleh Belanda, selanjutnya Rumah pahlawan Radjiman Wedyodiningrat yang terletak di desa Dirgo Kecamatan Widodaren dan di desa itu pula tempat kelahiran pahlawan nasional Radjiman Wedyodiningrat, Museum Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kec. Kedunggalar, Kabupaten Ngawi dengan jarak tempuh sekitar 14 km ke arah barat dari pusat kota Ngawi, selanjutnya Benteng Van Den Bosch terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabuapten Ngawi.

B.     Tujuan
Adapun tujuan kegiatan ini adalah sebagai berikut :
1.         Menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan sejarah dan beberapa tempat wisata  di Kabupaten Ngawi
2.         Menambah pengalaman para siswa dengan di adakannya study tour
3.         Observasi mata pelajaran sejarah




BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN

A.       Panitia Pelaksanaan
Panitia pelaksanaan Study Tour yaitu :
a.       Siswa kelas IX SMP AL-AZHAR Paron
b.      Guru pembimbing
B.       Peserta dan Pembina
Peserta yang mengikuti study tour terdiri dari seluruh siswa
SMP AL-AZHAR Paron.
C.       Waktu Pelaksanaan
Dilaksanakan pada :
Hari               :    Sabtu
Tanggal          :    27 September 2014
Jam               :    07.30
D.      Agenda Kegiatan
Melakukan Observasi
Hari               :    Sabtu
Tanggal          :    27 September 2014
Jam               :    07.30
Tempat          :
1.      Rumah Radjiman Wedyodiningrat (Desa Dirgo Kecamatan Widiodaren)
2.      Monumen Suryo
3.      Museum Trinil
4.      Benteng Pendem (Van den Bosch)

E.       Biaya
Biaya untuk mengikuti Study Tour sebesar Rp, 20.000 / siswa




BAB III
PEMBAHASAN
Sebelum kami berangkat, kami berkumpul pukul 07.00 WIB, kemudian kami segera memeriksa barang- barang kami apakan ada yang tertinggal atau pelengkapan yang kurang yang di pimpin oleh ketua kelompok. Setelah itu sekitar pukul  07.30 kami siap berangkat, sebelumnya kami semua berdoa supaya diberi kemudahan dan kelacaran serta keselamatan dalam perjalanan.

A.     Rumah Radjiman Wedyodiningrat (Desa Dirgo Kecamatan Widiodaren)



 






Disebelah Barat Daya, dengan radius sekitar 2 Km dari desa Walikukun, terdapat sebuah dusun dengan nama Dirgo.Terdapatlah sebuah lokasi rumah tempat tinggal tokoh pergerakan dan kemerdekaan Indonesia dia adalah DR.KRT Rajiman Wedyodiningrat. Beliau lahir pada tanggal 21 April 1879 di Yogyakarta. DR.Rajiman adalah tokoh pergerakan Indonesia, sebagai salah satu pimpinan Boedi Oetomo, dan pernah mengetuai BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha – Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sebuah lembaga yang berfungsi untuk mempersiapkan cikal bakal terbentuknya Republik Indonesia, melalui transisi penyerahan kekuasaan atau kemerdekaan dari pemerintah militer Jepang.
Beliau datang dan tinggal diwilayah tersebut pada tahun 1935, membeli sebuah rumah beserta pekarangan dan persawahan seluas total +/- 73 ha dari seorang tuan tanah Belanda bernama mr.Doning. Dr.Rajiman menempati rumah tersebut sampai dengan wafatnya beliau di tahun 1951, pada usia 72 tahun.Dalam aktifitasnya selama tinggal di Dirgo dalam kurun waktu sekitar 26 tahun, Dr.Rajiman sering bolak – balik ke Jakarta untuk menghadiri rapat – rapat penting,mengingat keberadaannya sebagai tokoh dan pejabat negara yaitu sebagai anggota DPR, dengan menggunakan jasa transportasi Kereta Api dari stasiun Walikukun yang hanya berjarak 1,5 Km dari rumahnya. Sebelum wafat Dr.Rajiman menjual areal pekarangan dan persawahan kepada masyarakat sekitar maupun kepada para penggarapnya dengan harga yang sangat murah, dan hanya menyisakan untuk keluarganya seluas 7,5 ha saja.
Ini wujud kepedulian dan kecintaan beliau kepada masyarakat sekitar.Dr.Rajiman wafat di rumah tersebut pada tahun 1951, dan Presiden RI saat itu Ir.Soekarno datang kerumah tersebut untuk melayat. Beliau di makamkan di makam keluarga di Yogyakarta.Dan atas jasa – jasa beliau selama hidupnya dalam memperjuangkan kemerdekaan maka pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional.
Rumah tua tersebut kini telah berusia +/- 130 tahun, bangunannya kokoh dan sederhana, harus di akui bahwa tampak kurang terurus dengan baik.Areal pekarangannya sangat luas, seluas lapangan sepakbola, dari pintu gerbang menuju rumah sejauh +/- 100 meter. Masyarakat lebih mengenal DR.Rajiman dengan nama ”Kanjeng Dirgo”. Bagi masyarakat Walikukun yang belum pernah melihat rumah tersebut silahkan lihat dan datang ke Dirgo, ada sebuah kebanggaan bahwa ada tokoh kaliber nasional, pejuang pergerakan dan kemerdekaan pernah hadir dan hidup sampai dengan wafat disana.
B.     Monumen Suryo
Monumen Suryo adalah sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang Gubernur pertama Jawa Timur, Mr. Soerjo. Gubernur Suryo meninggal dalam sebuah insiden kerusuhan yang dilakukan oleh komunis pada tahun 1948. Monumen ini terletak ditepi jalan raya Ngawi-Solo, tepatnya sebelah barat kota Ngawi sekitar 17 km atau 18 km ke arah timur perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Seperti tempat wisata alam lainnya, disamping monumen ini juga menawarkan keindahan panorama alam. Disekitar monumen telah ditanami berbagai tanaman diantaranya : Sawo Kecik, Citradora, Cendana, Sonokeling, dan lain-lain. Ada juga jenis burung yang ditangkarkan seperti : Perkutut, Podang, Jalak, Bekisar, dan masih banyak lagi.



 




Untuk kenyamanan pengunjung, pihak pengelola menyediakan berbagai fasilitas diantaranya adalah sebuah ruang informasi, Musholla, sebuah pendopo untuk beristirahat dan tempat bermain anak-anak. Setiap hari Monumen Suryo banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

C.     Museum Trinil
Mengunjungi Museum Trinil, mengajak kita kembali ke dalam kehidupan jutaan tahun yang lalu. Melihat lamanya waktu, sejarah ini pasti menceriterakan tentang kepurbakalaan. Satu-satunya situs kepurbakalaan berada di Ngawi Jawa Timur adalah Museum Trinil Di museum ini banyak sekali tersimpan fosil-fosil purba, mulai dari tengkorak manusia, gajah serta peralatan yang digunakan untuk mempertahankan diri pada zaman itu.







Museum Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kec. Kedunggalar, Kabupaten Ngawi dengan jarak tempuh sekitar 14 km ke arah barat dari pusat kota Ngawi.

D.    Benteng Pendem
Benteng Van Den Bosch atau lebih dikenal masyarakat sekitar ngawi dengan sebutan Benteng Pendem  pada asalnya merupakan benteng pertahanan yang sengaja dibuat sebagai benteng pertahanan di area Jawa Timur bagian Barat sekaligus kamp militer tentara Belanda. Benteng Van Den Bosch dibuat oleh pemerintah kolonial pada era tahun 1839-1945.
Sebagai gambaran latar sejarah, pada abad ke-19 Kota Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur dan dijadikan pusat pertahanan Belanda di wilayah Madiun dan sekitarnya dalam Perang Diponegoro (1825-1830). Perlawanan melawan Belanda yang berkobar di daerah dipimpin oleh kepala daerah setempat seperti di Madiun dipimpin oleh Bupati Kerto Dirjo dan di Ngawi dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut pangeran Diponegoro bernama Wirotani.
Pada tahun 1825 Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda. Untuk mempertahankan kedudukan dan fungsi strategis Ngawi serta menguasai jalur perdagangan, Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah Benteng yang selesai pada tahun 1845, yaitu Benteng Van Den Bosch. Benteng ini dihuni tentara Belanda 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Van Den Bosch.





Di dalam benteng ini sendiri terdapat makam K.H Muhammad Nursalim, yaitu salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda dan dibawa ke Benteng ini. Konon K.H Muhammad Nursalim ini adalah orang yang menyebarkan agama Islam di Kota Ngawi. Van Den Bosch, yang notabene merupakan salah satu ikon sejarah Kota Ngawi memiliki lokasi yang mudah dijangkau wisatawan. Bagi yang ingin bersantai ria sambil menikmati permainan sederhana, di area Benteng Van Den Bosch juga disediakan gazebo-gazebo dan wahana permainan “Taman Labirin”.







Taman Labirin merupakan area taman bermain yang berada di luar benteng. Di taman ini terlihat cukup rapi dengan penataan yang cukup go green. Di area ini pengunjung akan mendapati pula tempat-tempat sampah dengan pengelolaan yang baik, termasuk pula adanya display pembuatan kompos cair di dalamnya. Di taman ini pula kita akan melihat sistem solar cell yang dimanfaatkan guna penerangan area taman di malam hari.

















BAB IV
PENUTUP

E.     Kesimpulan
Dari penulisan laporan ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa objek-objek wisata di Ngawi beraneka ragam. Sebagai warga Ngawi yang baik, sudah sepantasnya kita menjaga agar tetap lestari wisata lokal daerah kita. Sehingga meningkatkan kemajuan wisata di daerah Ngawi. Bukan saja observasi tapi kami juga memperoleh ilmu pengetahuan yang mendalam tentang sejarah dan ilmu jurnalistik.
F.      Saran
Penyusun dengan keterbatasan yang ada menyadari bahwa laporan ini  masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu , kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Akhirnya penyusun berharap mudah – mudahan laporan ini bermanfaat bagi pembaca.

Friday, 28 November 2014

Biografi Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro









Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta, 11 November 1785.  Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah Hindia-Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia. 

Pemerintah Republik Indonesia memberi pengakuan kepada Pangeran Diponegoro sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No.87/TK/1973.

Penghargaan tertinggi juga diberikan oleh Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) , pada 21 Juni 2013 yang menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 1832-1833. 

Sejarah Asal-usul Pangeran Diponegoro

Merupakan putra sulung Sultan Hamengkubuwono III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dengan nama Mustahar dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III, untuk mengangkatnya menjadi raja mataram dengan alasan ibunya bukanlah permaisuri. Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danureja bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.

Riwayat Perjuangan Pangeran Diponegoro

Perang Diponegoro berawal saat pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Beliau muak dengan kelakuan Belanda yang tidak mau menghargai adat istiadat masyarakat setempat dan juga mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.Perjuangan Pangeran Diponegoro ini didukung oleh S.I.S.K.S. Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawirodigdaya Bupati Gagatan.

Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. 

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

Perang melawan penjajah lalu dilanjutkan oleh para putera Pangeran Diponegoro. Pangeran Alip atau Ki Sodewo atau bagus Singlon, Diponingrat, diponegoro Anom, Pangeran Joned terus melakukan perlawanan walaupun harus berakhir tragis. Empat Putera Pangeran Diponegoro dibuang ke Ambon, sementara Pangeran Joned terbunuh dalam peperangan, begitu juga Ki Sodewo.

Bagus Singlon atau Ki Sodewo adalah Putera Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Citrawati. Perjuangan Ki Sadewa untuk mendampingi ayahnya dilandasi rasa dendam pada kematian eyangnya (Ronggo) dan ibundanya ketika Raden Ronggo dipaksa menyerah karena memberontak kepada Belanda. Melalui tangan-tangan pangeran Mataram yang sudah dikendalikan oleh Patih Danurejo, maka Raden Ronggo dapat ditaklukkan. Ki Sodewo kecil dan Sentot bersama keluarga bupati Madiun lalu diserahkan ke Keraton sebagai barang bukti suksesnya penyerbuan.

Ki Sodewo yang masih bayi lalu diambil oleh Pangeran Diponegoro lalu dititipkan pada sahabatnya bernama Ki Tembi. Ki Tembi lalu membawanya pergi dan selalu berpindah-pindah tempat agar keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Belanda sendiri pada saat itu sangat membenci anak turun Raden Ronggo yang sejak dulu terkenal sebagai penentang Belanda. Atas kehendak Pangeran Diponegoro, bayi tersebut diberi nama Singlon yang artinya penyamaran.


Penangkapan dan pengasingan

Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro
Pada tanggal 20 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.

Tanggal 28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.



11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.
30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Dipasana dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertaleksana, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruna akan dibuang ke Manado.
3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.
1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.
8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di Makassar, tepatnya di Jalan Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, sekitar empat kilometer sebelah utara pusat Kota Makassar.

Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa.