Friday, 19 December 2014
Contoh LAPORAN STUDY TOUR
LAPORAN STUDY TOUR
RADJIMAN WEDYODININGRAT, MONUMEN SURYO, MUSEUM TRINIL,
BENTENG PENDEM
DISUSUN OLEH :
Nama :
Kelas :
No :
SMP
AL-AZHAR
TAHUN
PELAJARAN 2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan hasil laporan
study tour di :
1.
Radjiman Wedyodiningrat (Desa
Dirgo Kecamatan Widodaren )
2.
Munumen Suryo
3.
Museum Trinil
4.
Benteng Pendem
Dengan tersusunnya laporan ini berkat kerja sama dengan teman-teman serta
tak lepas dari bimbingan bapak / ibu guru dan semua pihak yang telah membantu
terlaksananya pembuatan laporan ini.
Kami telah bekerja secara maksimal namun masih banyak
yang perlu diperbaiki untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik bapak/ibu
guru serta semua pembaca.
Demikian perbaikaan laporan ini sangat dibutuhkan.
Kemudian kepada semua pihak yang telah membantu didalam penyusunan laporan ini
kami ucapkan Terima Kasih.
Ngawi, 4 Desember 2014
Penyusun
PERSEMBAHAN
Laporan
karya tulis ini kami buat untuk memenuhi tugas sekolah dan kami persembahkan
kepada :
ü Kepala sekolah dan Ibu Jauharoh
ü Guru pembimbing kami Ibu Robi’ah
ü Wali kelas kami Ibu Yuli Indah Astuti
ü Orang tua kami yang telah mendukung dan mendoakan kami dalam
pembuatan laporan karya tulis ini.
ü Dan juga teman - teman
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................
ii
PERSEMBAHAN....................................................................................................... iii
DAFTAR ISI............................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah........................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah..................................................................................................... 1
C.
Tujuan...................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Panitia Pelaksanaan........................................................................................... ....... 2
B.
Peserta............................................................................................................. ....... 2
C.
Waktu Pelakasanaan................................................................................................ 2
D.
Agenda.................................................................................................................... 2
E.
Biaya........................................................................................................................ 2
BAB III PEMBAHASAN
A.
Rumah Radjiman Wedyodiningrat............................................................................. 3
B.
Monumen Suryo....................................................................................................... 4
C.
Museum Trinil........................................................................................................... 5
D.
Benteng Pendem Ngawi............................................................................................ 6
BAB IV PENUTUP
A.
KESIMPULAN................................................................................................. 8
B. SARAN..................................................................................................... ....... 8
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang dan Masalah
Kabupaten
Ngawi adalah sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia.
Ibukotanya adalah Ngawi. Kota kabupaten ini terletak di bagian barat Provinsi
Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah.
Sedangkan
tempat rekreasi yang ada saat ini adalah Monumen Suryo yang merupakan monument
sejarah pembunuhan gubernur pertama Jawa Timur oleh Belanda, selanjutnya Rumah
pahlawan Radjiman Wedyodiningrat yang terletak di desa Dirgo Kecamatan Widodaren
dan di desa itu pula tempat kelahiran pahlawan nasional Radjiman
Wedyodiningrat, Museum Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, Desa
Kawu, Kec. Kedunggalar, Kabupaten Ngawi dengan jarak tempuh sekitar 14 km ke
arah barat dari pusat kota Ngawi, selanjutnya Benteng Van Den Bosch terletak di
Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabuapten Ngawi.
B. Tujuan
Adapun tujuan
kegiatan ini adalah sebagai berikut :
1.
Menambah wawasan tentang ilmu
pengetahuan sejarah dan beberapa tempat wisata di Kabupaten Ngawi
2.
Menambah pengalaman para siswa
dengan di adakannya study tour
3.
Observasi mata pelajaran
sejarah
BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Panitia Pelaksanaan
Panitia pelaksanaan Study Tour yaitu :
a.
Siswa kelas IX SMP AL-AZHAR Paron
b.
Guru pembimbing
B. Peserta dan Pembina
Peserta yang mengikuti study
tour terdiri dari seluruh siswa
SMP AL-AZHAR Paron.
C. Waktu Pelaksanaan
Dilaksanakan pada :
Hari : Sabtu
Tanggal : 27 September 2014
Jam : 07.30
D. Agenda Kegiatan
Melakukan
Observasi
Hari : Sabtu
Tanggal : 27 September 2014
Jam : 07.30
Tempat :
1.
Rumah Radjiman Wedyodiningrat
(Desa Dirgo Kecamatan Widiodaren)
2.
Monumen Suryo
3.
Museum Trinil
4.
Benteng Pendem (Van den Bosch)
E. Biaya
Biaya untuk mengikuti Study Tour sebesar Rp, 20.000 / siswa
BAB III
PEMBAHASAN
Sebelum kami berangkat, kami berkumpul pukul 07.00 WIB,
kemudian kami segera memeriksa barang- barang kami apakan ada yang tertinggal
atau pelengkapan yang kurang yang di pimpin oleh ketua kelompok. Setelah itu
sekitar pukul 07.30 kami siap berangkat,
sebelumnya kami semua berdoa supaya diberi kemudahan dan kelacaran serta
keselamatan dalam perjalanan.
A. Rumah Radjiman
Wedyodiningrat (Desa Dirgo Kecamatan Widiodaren)
Disebelah Barat Daya, dengan radius sekitar 2 Km dari desa
Walikukun, terdapat sebuah dusun dengan nama Dirgo.Terdapatlah sebuah lokasi
rumah tempat tinggal tokoh pergerakan dan kemerdekaan Indonesia dia adalah DR.KRT
Rajiman Wedyodiningrat. Beliau lahir pada tanggal 21 April 1879 di
Yogyakarta. DR.Rajiman adalah tokoh pergerakan Indonesia, sebagai salah satu
pimpinan Boedi Oetomo, dan pernah mengetuai BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha –
Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sebuah lembaga yang berfungsi untuk
mempersiapkan cikal bakal terbentuknya Republik Indonesia, melalui transisi
penyerahan kekuasaan atau kemerdekaan dari pemerintah militer Jepang.
Beliau datang dan tinggal diwilayah tersebut pada tahun 1935,
membeli sebuah rumah beserta pekarangan dan persawahan seluas total +/- 73 ha
dari seorang tuan tanah Belanda bernama mr.Doning. Dr.Rajiman menempati rumah
tersebut sampai dengan wafatnya beliau di tahun 1951, pada usia 72 tahun.Dalam
aktifitasnya selama tinggal di Dirgo dalam kurun waktu sekitar 26 tahun,
Dr.Rajiman sering bolak – balik ke Jakarta untuk menghadiri rapat – rapat
penting,mengingat keberadaannya sebagai tokoh dan pejabat negara yaitu sebagai
anggota DPR, dengan menggunakan jasa transportasi Kereta Api dari stasiun
Walikukun yang hanya berjarak 1,5 Km dari rumahnya. Sebelum wafat Dr.Rajiman
menjual areal pekarangan dan persawahan kepada masyarakat sekitar maupun kepada
para penggarapnya dengan harga yang sangat murah, dan hanya menyisakan untuk
keluarganya seluas 7,5 ha saja.
Ini wujud kepedulian dan kecintaan beliau kepada masyarakat sekitar.Dr.Rajiman
wafat di rumah tersebut pada tahun 1951, dan Presiden RI saat itu Ir.Soekarno
datang kerumah tersebut untuk melayat. Beliau di makamkan di makam keluarga di
Yogyakarta.Dan atas jasa – jasa beliau selama hidupnya dalam memperjuangkan
kemerdekaan maka pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional.
Rumah tua tersebut kini telah berusia +/- 130 tahun, bangunannya
kokoh dan sederhana, harus di akui bahwa tampak kurang terurus dengan
baik.Areal pekarangannya sangat luas, seluas lapangan sepakbola, dari pintu
gerbang menuju rumah sejauh +/- 100 meter. Masyarakat lebih mengenal DR.Rajiman
dengan nama ”Kanjeng Dirgo”. Bagi masyarakat Walikukun yang belum pernah
melihat rumah tersebut silahkan lihat dan datang ke Dirgo, ada sebuah
kebanggaan bahwa ada tokoh kaliber nasional, pejuang pergerakan dan kemerdekaan
pernah hadir dan hidup sampai dengan wafat disana.
B. Monumen Suryo
Monumen
Suryo adalah sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang Gubernur pertama Jawa
Timur, Mr. Soerjo. Gubernur Suryo meninggal dalam sebuah insiden kerusuhan yang
dilakukan oleh komunis pada tahun 1948. Monumen ini terletak ditepi jalan raya
Ngawi-Solo, tepatnya sebelah barat kota Ngawi sekitar 17 km atau 18 km ke arah
timur perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Seperti
tempat wisata alam lainnya, disamping monumen ini juga menawarkan keindahan
panorama alam. Disekitar monumen telah ditanami berbagai tanaman diantaranya :
Sawo Kecik, Citradora, Cendana, Sonokeling, dan lain-lain. Ada juga jenis
burung yang ditangkarkan seperti : Perkutut, Podang, Jalak, Bekisar, dan masih
banyak lagi.
Untuk
kenyamanan pengunjung, pihak pengelola menyediakan berbagai fasilitas
diantaranya adalah sebuah ruang informasi, Musholla, sebuah pendopo untuk
beristirahat dan tempat bermain anak-anak. Setiap hari Monumen Suryo banyak
dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
C. Museum Trinil
Mengunjungi Museum
Trinil, mengajak kita kembali ke dalam kehidupan jutaan tahun yang lalu.
Melihat lamanya waktu, sejarah ini pasti menceriterakan tentang kepurbakalaan.
Satu-satunya situs kepurbakalaan berada di Ngawi Jawa Timur adalah Museum
Trinil Di museum ini banyak sekali tersimpan fosil-fosil purba, mulai dari
tengkorak manusia, gajah serta peralatan yang digunakan untuk mempertahankan
diri pada zaman itu.
Museum
Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kec. Kedunggalar,
Kabupaten Ngawi dengan jarak tempuh sekitar 14 km ke arah barat dari pusat kota
Ngawi.
D. Benteng Pendem
Benteng Van Den Bosch atau lebih dikenal masyarakat
sekitar ngawi dengan sebutan Benteng Pendem
pada asalnya merupakan benteng pertahanan yang sengaja dibuat sebagai
benteng pertahanan di area Jawa Timur bagian Barat sekaligus kamp militer
tentara Belanda. Benteng Van Den Bosch dibuat oleh pemerintah kolonial pada era
tahun 1839-1945.
Sebagai gambaran latar sejarah, pada abad ke-19 Kota Ngawi menjadi
salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur dan dijadikan pusat
pertahanan Belanda di wilayah Madiun dan sekitarnya dalam Perang Diponegoro
(1825-1830). Perlawanan melawan Belanda yang berkobar di daerah dipimpin oleh
kepala daerah setempat seperti di Madiun dipimpin oleh Bupati Kerto Dirjo dan
di Ngawi dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo,
serta salah satu pengikut pangeran Diponegoro bernama Wirotani.
Pada tahun 1825
Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda. Untuk mempertahankan
kedudukan dan fungsi strategis Ngawi serta menguasai jalur perdagangan,
Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah Benteng yang selesai pada tahun
1845, yaitu Benteng Van Den Bosch. Benteng ini dihuni tentara Belanda 250 orang
bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Van Den
Bosch.
Di dalam benteng ini sendiri terdapat makam K.H Muhammad Nursalim, yaitu
salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda dan dibawa
ke Benteng ini. Konon K.H Muhammad Nursalim ini adalah orang yang menyebarkan
agama Islam di Kota Ngawi. Van Den Bosch, yang notabene merupakan salah satu
ikon sejarah Kota Ngawi memiliki lokasi yang mudah dijangkau wisatawan. Bagi
yang ingin bersantai ria sambil menikmati permainan sederhana, di area Benteng
Van Den Bosch juga disediakan gazebo-gazebo dan wahana permainan “Taman
Labirin”.
Taman Labirin merupakan area taman bermain yang berada di luar
benteng. Di taman ini terlihat cukup rapi dengan penataan yang cukup go green.
Di area ini pengunjung akan mendapati pula tempat-tempat sampah dengan
pengelolaan yang baik, termasuk pula adanya display pembuatan kompos cair di
dalamnya. Di taman ini pula kita akan melihat sistem solar cell yang
dimanfaatkan guna penerangan area taman di malam hari.
BAB IV
PENUTUP
E. Kesimpulan
Dari penulisan
laporan ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa objek-objek wisata di Ngawi beraneka
ragam. Sebagai warga Ngawi yang baik, sudah sepantasnya kita menjaga agar tetap
lestari wisata lokal daerah kita. Sehingga meningkatkan kemajuan wisata di daerah
Ngawi. Bukan saja observasi tapi kami juga memperoleh ilmu pengetahuan yang
mendalam tentang sejarah dan ilmu jurnalistik.
F.
Saran
Penyusun dengan
keterbatasan yang ada menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu ,
kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Akhirnya penyusun
berharap mudah – mudahan laporan ini bermanfaat bagi pembaca.
Friday, 28 November 2014
Biografi Pangeran Diponegoro
Pangeran
Diponegoro
Pangeran Diponegoro lahir
di Yogyakarta, 11 November 1785. Pangeran Diponegoro terkenal karena
memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah
Hindia-Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling
besar dalam sejarah Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia memberi pengakuan
kepada Pangeran Diponegoro sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 6
November 1973 melalui Keppres No.87/TK/1973.
Penghargaan tertinggi juga diberikan oleh Organisasi
PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) , pada 21 Juni
2013 yang menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan
Ingatan Dunia (Memory of the World). Babad Diponegoro merupakan naskah klasik
yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado,
Sulawesi Utara, pada 1832-1833.
Sejarah
Asal-usul Pangeran Diponegoro
Merupakan putra sulung Sultan Hamengkubuwono III,
seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di
Yogyakarta dengan nama Mustahar dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati,
yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan.
Pangeran Diponegoro bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.
Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir,
Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III, untuk
mengangkatnya menjadi raja mataram dengan alasan ibunya bukanlah permaisuri.
Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih
suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari
HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap
keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822)
dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang
mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan
pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danureja bersama Residen Belanda.
Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.
Riwayat
Perjuangan Pangeran Diponegoro
Perang Diponegoro berawal
saat pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di
desa Tegalrejo. Beliau muak dengan kelakuan Belanda yang tidak mau menghargai
adat istiadat masyarakat setempat dan juga mengeksploitasi rakyat dengan
pembebanan pajak.
Sikap Diponegoro yang
menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas
saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir
dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa
Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan
bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir.
Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh
luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di
Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.Perjuangan
Pangeran Diponegoro ini didukung oleh
S.I.S.K.S. Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawirodigdaya
Bupati Gagatan.
Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari
23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana
suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa
timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan
terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem
benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit.
Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap.
Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya
menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock
berhasil menjepit pasukan Diponegoro di
Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan
bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya
dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap
dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya
di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Perang melawan penjajah lalu dilanjutkan oleh para putera
Pangeran Diponegoro. Pangeran Alip atau Ki Sodewo atau bagus Singlon,
Diponingrat, diponegoro Anom, Pangeran Joned terus melakukan perlawanan
walaupun harus berakhir tragis. Empat Putera Pangeran Diponegoro dibuang ke
Ambon, sementara Pangeran Joned terbunuh dalam peperangan, begitu juga Ki
Sodewo.
Bagus Singlon atau Ki Sodewo adalah Putera Pangeran Diponegoro dengan
Raden Ayu Citrawati. Perjuangan Ki Sadewa untuk mendampingi ayahnya
dilandasi rasa dendam pada kematian eyangnya (Ronggo) dan ibundanya ketika
Raden Ronggo dipaksa menyerah karena memberontak kepada Belanda. Melalui
tangan-tangan pangeran Mataram yang sudah dikendalikan oleh Patih Danurejo,
maka Raden Ronggo dapat ditaklukkan. Ki Sodewo kecil dan Sentot bersama
keluarga bupati Madiun lalu diserahkan ke Keraton sebagai barang bukti
suksesnya penyerbuan.
Ki Sodewo yang masih bayi lalu diambil oleh Pangeran Diponegoro lalu dititipkan pada sahabatnya bernama
Ki Tembi. Ki Tembi lalu membawanya pergi dan selalu berpindah-pindah
tempat agar keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Belanda sendiri pada saat
itu sangat membenci anak turun Raden Ronggo yang sejak dulu terkenal sebagai
penentang Belanda. Atas kehendak Pangeran Diponegoro,
bayi tersebut diberi nama Singlon yang artinya penyamaran.
Penangkapan
dan pengasingan
Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan.
Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro.
Pada tanggal 20 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo
Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan
agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu
kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.
Tanggal 28 Maret 1830 Diponegoro menemui
Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan
dan mendesak Diponegoro agar
menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro Tetapi Belanda telah
menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke
Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke
Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.
11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis
(sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian
dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.
30
April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro,
Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Dipasana dan istri, serta para pengikut
lainnya seperti Mertaleksana, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruna akan dibuang ke
Manado.
3
Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan
dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.
1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi
Selatan.
8
Januari 1855 Diponegoro wafat
dan dimakamkan di Makassar, tepatnya di Jalan Diponegoro, Kelurahan
Melayu, Kecamatan Wajo, sekitar empat kilometer sebelah utara pusat Kota
Makassar.
Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan
bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia
sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang
Jawa.
















